Sabtu, 25 Juli 2020

SI PAHIT, PELEPAS BEBAN DAN PENGIKAT RINDU


Lemak manis jangan ditelan, pahit jangan dimuntahkan

Pepatah di atas mengingatkan kita untuk tidak mudah terbuai dengan sesuatu yang terasa nikmat karena terkadang enak di pangkal namun pahit di ujungnya. Demikian pula sebaliknya sesuatu  yang terasa pahit jangan dijauhi atau dibuang karena ia akan menjadi obat/pelipur lara di akhirnya.

Pada kehidupan ini tidak pernah terlepas dengan masalah rasa, entah itu rasa manis dan pahitnya kehidupan yang kita alami serta urusan rasa yang terdapat di lidah. Dan dalam keadaan susah, senang dan rilex kita selalu mencari teman untuk bersantai dengan menyuguhkan makanan dan minuman untuk dinikmati. Tetapi pada umumnya orang akan mencari minuman yang menyegarkan.

Di Indonesia, jika kita melakukan survey tentang minuman favorit setelah air putih maka akan ditemukan jawaban beragam yaitu teh atau kopi. Jadi apakah masih ada orang yang tidak mengenal kedua rasa minuman tersebut?

Dari dulu hingga saat ini minuman yang tidak pernah alpha menemani hari-hari kita di rumah adalah teh dan kopi. Teh selalu hadir dengan rasa pekatnya dan kopi selalu setia dengan pahitnya. Keduanya tidak pernah berdusta dan menyembunyikan rasanya. Tapi meskipun demikian orang tetap mencarinya, sehingga tidak heran warung atau warkop dan kedai menjamur (dimana-mana selalu tersedia). Bahkan ada yang membukanya hingga larut malam. Ini menunjukkan begitu banyak yang mencintai minuman ini.

Dan kedua minuman ini sudah banyak modifikasi, ia sudah disajikan dengan berbagai pilihan rasa. Ada teh hijau, teh hitam, teh putih, teh kunyit, kopi arabica, kopi robusta, kopi liberica, white coffee dll. Kedua minuman tersebut terkadang dicampurkan dengan rasa buah atau tanaman obat-obatan seperti teh jahe, kopi strawberry bahkan ada yang mencampurkan keduanya yakni teh rasa kopi.

Dan dalam suatu Riwayat As-Sayyid Ahmad bin Ali Bahr al-Qadimi berjumpa dengan Nabi Muhammad SAW dalam keadaan terjaga. Ia berkata kepada Nabi SAW.: “Wahai Rasulullah, aku ingin mendengar hadits darimu tanpa perantara.” Nabi Muhammad SAW. Kemudian beliau bersabda: “Aku akan memberimu 3 hadits; yang antara lain dari 3 hadist yang disebutkan Rasulullah SAW adalah “ selama bau biji kopi ini masih tercium aromanya di mulut seseorang, maka selama itu pula malaikat akan beristighfar (memintakan ampun) untuknya”.(Kitab Tazdkir An-Nas: 77). Jadi pada masa Rasulullahpun minuman kopi sudah dikenal.

Pada hakekatnya, teh adalah minuman yang dibuat dari pucuk  atau daun kering tanaman teh sedangkan minuman kopi dari bijinya yang dikeringkan kemudian disangrai dan dihaluskan. Dalam teh dan kopi terdapat kandungan kimia yakni pada teh terdapat sellulosa, protein, klorofil, tanin, pati, kafein, asam amino, gula dan abu. Sedangkan pada kopi sellulosa, kafein, lemak, gula, air dan abu.(Hambali, E)

Di antara kandungan kimia di atas terdapat senyawa kafein (C8H10N4O2) yang dapat memberikan efek stimulasi terhadap sistem saraf pusat. Zat tersebut dapat mengurangi resiko penyakit kronis dan meningkatkan suasana hati sehingga seseorang yang merasa Lelah dan penat dapat merasa bugar kembali setelah minum teh atau kopi.

Menurut Nikolai Kuhnert (Ahli Kimia Jacobs Bremens University di Jerman) yang dilansir oleh Metro (22 Januari 2018) menyatakan bahwa pada saat minum teh maka senyawa kafein yang keluar pertama dari daun. Kafein menghalangi produksi adenosin (neurotaransmiter yang membuat kita Lelah sepanjang hari). Hal inilah yang mempengaruhi suasana hati kita dapat refresh setelah minum teh dan kopi.

Kafein biasanya terikat unsur Nitrogen, sehingga pada teh dan kopi jika diakumulasikan kandungan kafeinnya maka kopi jauh lebih tinggi dibandingkan teh. Para ahli mengatakan bahwa setiap 226 gram bubuk kopi mengandung 150 mg kafein. Teh hijau mengandung 75 mg, dan teh hitam 50 mg kafein.

kandungan kafein dalam teh dan kopi cukup tinggi untuk dapat dikonsumsi setiap hari. Apalagi bagi mereka yang sudah candu dan selalu dirundukan, sehingga akan merasa pusing jika tidak minum teh dan kopi dalam  sehari, bahkan hal tersebut menjadi kegiatan rutin di rumah atau di manapun  ia berada. Dan tanpa disadari kafein akan terakumulasi di dalam tubuh. Kafein pun jika berlebihan maka akan menimbulkan perasaan gelisah, susah tidur, gangguan pencernaan, merusak otot dan jika efek kafein dari teh dan kopi yang kita minum hilang maka kita akan merasa lelah kembali. Hal inilah yang membuat candu terhadap kedua minuman tersebut.

Dan hal yang sangat disayangkan minuman yang beredar di Indonesia khususnya teh dan kopi karena produsen minuman tidak pernah mencantumkan indikasi penggunaan dan informasi tentang siapa saja yang cocok meminumnya,  (tidak mencantumkan kontra indikasi atau peringatan akan bahaya minuman tersebut).  Sehingga kitalah yang perlu memilah-milah takaran minuman yang kita konsumsi setiap harinya.

Akhir kata meminjam pepatah penikmat kedua minuman ini bahwa teh dan kopi  selalu jujur akan pahitnya ,dan membuat kita sadar bahwa yang manis tak selalu berakhir indah. Dan ketika kata-kata tak lagi banyak berbicara, secangkir teh dan kopi bisa jadi perantara dan mencairkan suasana.

Namun sepahit-pahitnya rasa asli kopi dan teh itu tidak seberapa. Kata Ali bin Abu Thalib “Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia”.

9 komentar:

  1. Mantap, kata terakhir lebih menyentuh. Lebih baik berharap pada Allah daripada berharap pada manusia. Akan lebih manis ketika kita selalu berharap pada Allah
    swt drpd manusia.

    BalasHapus
  2. Semuanya menyentuh kalau membaca tulisan Ibu. Ketika sains dikaitkan dgn Islam sy selalu terkagum2 bu.😍Harusnya sprti ini mmng. Smg sy jg bisa melakukannya.

    BalasHapus
  3. Keren dinda. Berharap pada manusia akan kecewa, berharap pada Allah akan membuat hati tenang dan semakin membuat kita dekat denganNya.

    BalasHapus
  4. Keduanya minuman yg bisa membuat hati tenang dikala dahaga tentu dgn takaran yg pas

    BalasHapus

SK Fungsional Lektor