Sabtu, 20 Juni 2020

KARBOHIDRAT SANG PEMBAKAR SEMANGAT HIDUP


Menang jadi arang kalah jadi abu

          Suatu pertarungan selalu ada yang menang dan kalah. Tapi pada hakekatnya menang atau kalah kedua-duanya hancur, musnah, dan wujudnya  tidak bisa kembali ke bentuk sediakala  seperti yang terjadi pada proses kimia. Semua bagaikan kayu yang dilahap api, ia akan jadi arang atau abu. Energi yang dikeluarkan akan hilang percuma dan tanpa hasil alias sia-sia. Seperti itulah makna pepatah di atas.

         Pada hakekatnya, kayu memiliki banyak manfaat bagi kehidupan manusia yakni sebagai bahan bangunan, peralatan rumah tangga, bahan baku kertas dan bahan bakar. Dalam Al-quran Surah Yasin ayat 80 yang artinya:

“Dan Tuhan jadikan untukmu dari pohon kayu yang hijau, maka tiba-tiba kamu nyalakan api dari kayu itu”.

Kayu memiliki cadangan energi yang dapat menyala ketika  saling digesekkan seperti pohon Afar. Jika dalam bentuk mentah maka kayu secara langsung dapat dijadikan bahan bakar dan dalam jangka waktu yang lama (ribuan tahun) akan terjadi pelapukan tanaman di dalam tanah menjadi batu bara dan minyak bumi. Ia dapat diolah menjadi bahan bakar minyak (BBM) mesin kendaraan manusia  seperti bensin. Demikian pula bijinya seperti biji jarak dapat diolah menjadi biodiesel. Kayu termasuk karbohidrat golongan sellulosa (serat) yang tidak dapat dikonsumsi manusia.

Karbohidrat  secara etimologi berasal dari kata karbo (karbon) dan hidrat (air). Jadi karbohidrat adalah senyawa/ zat yang terdiri dari karbon (C), Hidrogen (H) dan Oksigen (O) dengan rumus molekul Cx(H2O)n.

Penggolongan karbohidrat terdiri dari 3 bagian, di antaranya adalah polisakarida. Golongan polisakarida ini terdiri dari Amilum (pati) yang dapat dikonsumsi seperti nasi, jagung, ubi, mie dll. Sedangkan yang tidak dapat dikonsumsi/dimakan oleh manusia adalah karbohidrat golongan sellulosa (serat) seperti kayu, kulit buah dan daun pisang. Kenapa demikian? Karena pada kayu, kulit buah, daun pisang memiliki ikatan a (alfa) sellulosa dan di dalam tubuh manusia tidak terdapat enzim yang bisa mengurai ikatan tersebut. Jadi jika enzim pengurainya ada di dalam tubuh maka kayu dan daun pisangpun kita lahap. Berbeda dengan daun-daunan yang biasa dijadikan sayur memiliki ikatan β (beta) sellulosa sehingga dapat hancur di dalam tubuh oleh enzim sellulase. Kemudian polisakarida dalam bentuk khitin terdapat pada cangkang kepiting dan udang yang biasanya dibuat kapsul dan bahan kosmetik.

Karbohidrat dalam bentuk polisakarida di dalam tubuh manusia akan terurai menjadi monosakarida yakni glukosa (gula). Gula ini nantinya larut dalam darah yang akan diedarkan ke seluruh tubuh. Sehingga untuk mendiagnosa penyakit seseorang cukup mengambil sampel darahnya seperti penyakit diabetes. Jadi penyakit diabetes bukan diakibatkan oleh komsumsi gula semata tetapi sangat dipengaruhi oleh banyaknya asupan karbohidrat di dalam tubuhnya seperti mengkomsumsi nasi secara berlebihan.

Karbohidrat ini merupakan bahan bakar di dalam tubuh kita. Ia akan menghasilkan energi yang luar biasa bagi tubuh untuk melakukan aktifivitas. Dalam sehari dibutuhkan kurang lebih 2000 kalori untuk melakukan aktivitas sedangkan dalam 1 gelas nasi yang kita konsumsi akan menghasilkan165 kalori.(Wisnubrata, 2017). Energi atau kalori yang dibutuhkan seseorang jauh lebih besar ketika ia berpikir dibandingkan aktivitas lainnya. Pada dasarnya energi (kalori) dari karbohidrat bersumber dari cahaya matahari yang diserap oleh klorofil (zat hijau daun) kemudian disimpan di dalam biji, umbi, buah dan batang tanaman.

Jika dalam sehari saja kita tidak makan maka tubuh akan terasa lemas dan kurang bersemangat dan imun menurun, tetapi  masih ada cadangan energi tubuh di dalam hati dalam bentuk ATP (Adenosin Trifosfat). Itulah pentingnya kita selalu menjaga hati baik secara fisik maupun psikologis karena energi cadangan kita diproses di dalamnya. Dan apabila energi cadangan tersebut sudah habis maka akan diambil dari kandungan lemak yang terdapat dalam tubuh, hingga tidak ada lagi cadangan energi yang tersisa akhirnya seseorang tidak sadarkan diri.

Akhir kata, kita perlu mengontrol asupan zat gizi berupa karbohidrat dalam tubuh kita, karena ia akan menjadi bahan bakar tubuh untuk melakukan aktivitas termasuk membaca, menulis dan berpikir. Di dalam tubuh, karbohidrat dalam jumlah kecil akan menjadi penyemangat hidup dan dalam jumlah besar atau berlebihan akan menjadi penyakit diabetes.

 

14 komentar:

  1. Suatu pelajaran yg sangat berharga, bahwa segala yg berlebihan itu kebanyakan efeknya akan berakibat negatif bagi kita sendiri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
  2. kerenn sekali tulisannya bu, membuka cakrawala. ternyata pelajaran2 IPA sangat menarik jika dikaitkan dgn kehidupan nyata kita :)

    BalasHapus
  3. Tulisan Hebat. Mengingatkan untuk makan dan minum tapi tdk berlebihan

    BalasHapus
  4. Subhanallah makasi ilmunyailmunya ibu

    BalasHapus
  5. Masya Allah.... informatif bu...

    BalasHapus
  6. Masya Allah, terima kasih sharingnya bu😍😍😍

    BalasHapus

SK Fungsional Lektor