Chemistry artinya kimia dan ia merupakan
susunan, struktur, sifat dan perubahan materi dari suatu unsur atau zat. Dalam
zat terdapat ikatan-ikatan yang dapat menguatkan persenyawaan materi tersebut. Istilah
chemistry ini sudah menjadi umum dan dalam kehidupan sehari-hari,
orang-orang mengistilahkan chemistry sebagai ikatan lahir dan bathin seseorang. Hal
ini menjadi penguat hubungan seseorang ketika chemistry itu hadir di antara
keduanya.
Pada hakekatnya
kehidupan dalam rumah tangga seperti reaktor (tempat terjadinya reaksi) di
dalam suatu pabrik. Pabrik selalu menghasilkan produk dengan kualitas terbaik.
Kualitas yang baik akan terbentuk jika bahan bakunya baik pula. Jadi semua
produk (hasil) tergantung sumbernya. Reaksi yang umum terjadi di dalam reaktor
adalah A ditambahkan B akan menghasilkan C atau reaktan menghasilkan produk.
Demikian pula di dalam rumah tangga yang telah dianugrahi anak, yang mengambil
peran sebagai reaktan adalah ayah dan ibu, sedangkan produk adalah anak. Anak
akan baik jika dididik oleh orang tua yang baik pula. Akan tetapi ibu merupakan
sekolah pertama bagi anak-anaknya. Sebagaimana pepatah arab yang sangat
populer yaitu Al-Ummu madrsatul ula, iza a’dadtaha
a’dadta sya’ban thayyibal a’raq, yang artinya ibu adalah sekolah pertama (utama),
bila engkau mempersiapkannya maka engkau mempersiapkan generasi terbaik.(Sara
M, 2016)
Menurut James Esdras Faust seorang
pengacara, politikus dan pemuka agama di Amerika bahwa “ The influence
of mother in the lives of her children is beyond calculation”. Pengaruh Ibu
terhadap kehidupan anak-anak itu di luar perhitungan. Seorang Ibu adalah sosok
paling vital dalam perkembangan anak.
Di dalam rumah
ibulah yang memberi warna-warni kehidupan rumah tangga meski terkadang dalam
pengambilan keputusan tetap di tangan sang ayah. Kegiatan di rumah setiap hari,
ibu shalehah selalu bangun paling cepat dan tidur paling lambat. Saat semua
tertidur pulas iapun bangun menangis dan mengadu pada sang khalik agar seluruh
isi rumah dalam kondisi baik, sehat, panjang umur dan selalu dalam limpahan
rahmat-Nya. Iapun rutin melakukannya tanpa rasa lelah demi kebahagian semuanya.
Setelah shalat
subuh, iapun membangunkan anak-anak dan bergegas menyiapkan sarapan dengan
berbagai menu yang berganti setiap harinya agar orang di rumah tidak merasa
bosan. Saat masakpun bertaburan doa ibu panjatkan agar
anak-anaknya menjadi pribadi yang sabar dan penurut pada orang tua. Kemudian memasak
air sambil mencuci, membersihkan rumah bahkan terkadang menyetrika pakaian
hingga tak terasa matahari terbit. Bagi ibu
yang memilki bayi hingga anak berjalan lalu berlari semua terjaga dan terpantau
olehnya. Ia harus memandikan dan menyuapinya. Rasanya waktu begitu cepat saat
menjelang pagi karena semua sudah terkonsep apa saja yang harus diselesaikannya
pada hari itu dan untuk besok, lusa, minggu depan, bulan depan bahkan tahun
depan dst.
Bagi ibu yang bekerja sebagai penjual makanan maka ia meracik bumbunya di malam hari dan memasaknya di waktu subuh. Begitu pula ibu yang bekerja dengan berbagai profesi lainnya antara lain di kantor, sekolah dan kampus. Meski hal yang berbeda kadang terjadi bagi ibu rumah tangga yang mendelegasikan beberapa tugasnya pada asisten rumah tangga. Pastilah tidak sesibuk mereka bekerja sambil mengurus semuanya. Yang pasti semuanya merupakan ladang amal bagi sang ibu.
Begitu pula di siang
hari dan malam, pekerjaan rutin mengurus anak tidak akan pernah berhenti sampai
anak menjadi dewasa dan berkeluarga. Amanah itu selalu melekat pada dirinya
sehingga ibu selalu merencanakan hal-hal yang dilakukannya. Konsep-konsepnya
telah tertuang dalam setiap Langkah kakinya, gerakan tangannya, ucapan dan senyumannya.
Meminjam kata Dr. Ngainun Naim bahwa kita terkadang banyak menulis di
pikiran kita, dan ternyata itulah yang dilakukan Ibu. Ibu terlalu banyak
menulis di pikiran dan bahkan di hatinya. Jika dikalkulasikan dalam setahun maka
ia bisa melebihi 1001 tulisan. Karya ibu sudah ia torehkan pada anak-anaknya
sebagai generasi penerusnya.
Rasulullah SAW dalam haditsnya yang ditulis
Imam Rulyawan dalam koran Republika (12/12/2018) bahwa pertanyaan seorang
sahabat kepada Rabulullah "Ya Rasul, siapakah orang yang harus aku hormati
di dunia ini." Rasul menjawab, "Ibumu." Kemudian dia bertanya
lagi, "Lalu siapa?" Rasul menjawab, "Ibumu." "Kemudian
lagi, ya Rasul," tanya orang itu. "Rasul menjawab, "Ibumu."
Lalu, laki-laki itu bertanya lagi; "Kemudian, setelah itu siapa, ya
Rasul?" "Bapakmu," jawab Rasulullah. .
Akhir kata sayangi ibu kita selagi nafasnya masih bercokol pada jasadnya karena kita tidak pernah tahu apa yang terjadi esok. Kitakah atau beliau yang mendahului kita. Seorang akan selalu dirindukan keberadaannya di saat ia tidak ada di sisi kita. Dan jagalah chemistry dengannya agar ikatan lahir dan bathin itu begitu kuat. Jangan biarkan diri kita merintih penyesalan yang luar biasa karena waktu tak dapat diputar balik.
😭😭😭
BalasHapusibu ....kami merindukanmu, mantap bu doktor
BalasHapusTerima kasih bu doktor
HapusLuar biasa ibu sangat inspiratif dan menyentuh hati pembacanya
BalasHapusTerima kasih pak doktor
Hapus