Sabtu, 01 Agustus 2020

KARYA IBU LEBIH DARI 1001 TULISAN


Kasih Ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang penggalan

           Kasih sayang anak kepada ibu, tidaklah  sebesar kasih  sayang anak kepada ibunya. Padahal di setiap langkah anak selalu teriring doa dari orang tua, Ayah Ibulah yang telah mengantarkan kita ke pintu kesuksesan yang diikuti oleh takdir Ilaahi Rabbi. Tanpa menafikan peran ayah yang luar biasa kepada kita, ibulah yang selalu mengambil peran pengasuhan anak di rumah. Dan yang paling dibutuhkan dalam suatu rumah tangga selain materi yakni chemistry yang menjadi pengikat lahir dan bathin antar keluarga.

Chemistry artinya kimia dan ia merupakan susunan, struktur, sifat dan perubahan materi dari suatu unsur atau zat. Dalam zat terdapat ikatan-ikatan yang dapat menguatkan persenyawaan materi tersebut. Istilah chemistry ini sudah menjadi umum dan dalam kehidupan sehari-hari, orang-orang mengistilahkan chemistry  sebagai ikatan lahir dan bathin seseorang. Hal ini menjadi penguat hubungan seseorang ketika chemistry itu hadir di antara keduanya.

Pada hakekatnya kehidupan dalam rumah tangga seperti reaktor (tempat terjadinya reaksi) di dalam suatu pabrik. Pabrik selalu menghasilkan produk dengan kualitas terbaik. Kualitas yang baik akan terbentuk jika bahan bakunya baik pula. Jadi semua produk (hasil) tergantung sumbernya. Reaksi yang umum terjadi di dalam reaktor adalah A ditambahkan B akan menghasilkan C atau reaktan menghasilkan produk. Demikian pula di dalam rumah tangga yang telah dianugrahi anak, yang mengambil peran sebagai reaktan adalah ayah dan ibu, sedangkan produk adalah anak. Anak akan baik jika dididik oleh orang tua yang baik pula. Akan tetapi ibu merupakan sekolah pertama bagi anak-anaknya. Sebagaimana pepatah arab yang sangat populer  yaitu   Al-Ummu madrsatul ula, iza a’dadtaha a’dadta sya’ban thayyibal a’raq, yang artinya ibu adalah sekolah pertama (utama), bila engkau mempersiapkannya maka engkau mempersiapkan generasi terbaik.(Sara M, 2016)

Menurut James Esdras Faust seorang pengacara, politikus dan pemuka agama di Amerika bahwa “ The influence of mother in the lives of her children is beyond calculation”. Pengaruh Ibu terhadap kehidupan anak-anak itu di luar perhitungan. Seorang Ibu adalah sosok paling vital dalam perkembangan anak.

Di dalam rumah ibulah yang memberi warna-warni kehidupan rumah tangga meski terkadang dalam pengambilan keputusan tetap di tangan sang ayah. Kegiatan di rumah setiap hari, ibu shalehah selalu bangun paling cepat dan tidur paling lambat. Saat semua tertidur pulas iapun bangun menangis dan mengadu pada sang khalik agar seluruh isi rumah dalam kondisi baik, sehat, panjang umur dan selalu dalam limpahan rahmat-Nya. Iapun rutin melakukannya tanpa rasa lelah demi kebahagian semuanya.

Setelah shalat subuh, iapun membangunkan anak-anak dan bergegas menyiapkan sarapan dengan berbagai menu yang berganti setiap harinya agar orang di rumah tidak merasa bosan. Saat   masakpun bertaburan doa ibu panjatkan agar anak-anaknya menjadi pribadi yang sabar dan penurut pada orang tua. Kemudian memasak air sambil mencuci, membersihkan rumah bahkan terkadang menyetrika pakaian hingga tak terasa matahari terbit.  Bagi ibu yang memilki bayi hingga anak berjalan lalu berlari semua terjaga dan terpantau olehnya. Ia harus memandikan dan menyuapinya. Rasanya waktu begitu cepat saat menjelang pagi karena semua sudah terkonsep apa saja yang harus diselesaikannya pada hari itu dan untuk besok, lusa, minggu depan, bulan depan bahkan tahun depan dst.

Bagi ibu yang bekerja sebagai penjual makanan maka ia meracik bumbunya di malam hari dan memasaknya di waktu subuh. Begitu pula ibu yang bekerja dengan berbagai profesi lainnya  antara lain di kantor, sekolah dan kampus. Meski hal yang berbeda kadang terjadi bagi ibu rumah tangga yang mendelegasikan beberapa tugasnya pada asisten rumah tangga. Pastilah tidak sesibuk mereka bekerja sambil mengurus semuanya. Yang pasti semuanya merupakan ladang amal bagi sang ibu.

Begitu pula di siang hari dan malam, pekerjaan rutin mengurus anak tidak akan pernah berhenti sampai anak menjadi dewasa dan berkeluarga. Amanah itu selalu melekat pada dirinya sehingga ibu selalu merencanakan hal-hal yang dilakukannya. Konsep-konsepnya telah tertuang dalam setiap Langkah kakinya, gerakan tangannya, ucapan dan senyumannya. Meminjam kata Dr. Ngainun Naim bahwa kita terkadang banyak menulis di pikiran kita, dan ternyata itulah yang dilakukan Ibu. Ibu terlalu banyak menulis di pikiran dan bahkan di hatinya. Jika dikalkulasikan dalam setahun maka ia bisa melebihi 1001 tulisan. Karya ibu sudah ia torehkan pada anak-anaknya sebagai generasi penerusnya.

Rasulullah SAW dalam haditsnya yang ditulis Imam Rulyawan dalam koran Republika (12/12/2018) bahwa pertanyaan seorang sahabat kepada Rabulullah "Ya Rasul, siapakah orang yang harus aku hormati di dunia ini." Rasul menjawab, "Ibumu." Kemudian dia bertanya lagi, "Lalu siapa?" Rasul menjawab, "Ibumu." "Kemudian lagi, ya Rasul," tanya orang itu. "Rasul menjawab, "Ibumu." Lalu, laki-laki itu bertanya lagi; "Kemudian, setelah itu siapa, ya Rasul?" "Bapakmu," jawab Rasulullah. .

Akhir kata sayangi ibu kita selagi nafasnya masih bercokol pada jasadnya karena kita tidak pernah tahu apa yang terjadi esok. Kitakah atau beliau yang mendahului kita. Seorang akan selalu dirindukan keberadaannya di saat ia tidak ada di sisi kita. Dan jagalah chemistry dengannya  agar ikatan lahir dan bathin itu begitu kuat. Jangan biarkan diri kita merintih penyesalan yang luar biasa karena waktu tak dapat diputar balik.

5 komentar:

SK Fungsional Lektor