Lemak manis jangan ditelan, pahit jangan dimuntahkan
Pepatah di atas mengingatkan kita untuk tidak mudah terbuai dengan sesuatu yang terasa nikmat karena terkadang enak di pangkal namun pahit di ujungnya. Demikian pula sebaliknya sesuatu yang terasa pahit jangan dijauhi atau dibuang karena ia akan menjadi obat/pelipur lara di akhirnya.
Pada
kehidupan ini tidak pernah terlepas dengan masalah rasa, entah itu rasa manis
dan pahitnya kehidupan yang kita alami serta urusan rasa yang terdapat di
lidah. Dan dalam keadaan susah, senang dan rilex kita selalu mencari teman
untuk bersantai dengan menyuguhkan makanan dan minuman untuk dinikmati. Tetapi
pada umumnya orang akan mencari minuman yang menyegarkan.
Di
Indonesia, jika kita melakukan survey tentang minuman favorit setelah air putih
maka akan ditemukan jawaban beragam yaitu teh atau kopi. Jadi apakah masih ada
orang yang tidak mengenal kedua rasa minuman tersebut?
Dari
dulu hingga saat ini minuman yang tidak pernah alpha menemani hari-hari kita
di rumah adalah teh dan kopi. Teh selalu hadir dengan rasa pekatnya dan kopi
selalu setia dengan pahitnya. Keduanya tidak pernah berdusta dan menyembunyikan
rasanya. Tapi meskipun demikian orang tetap mencarinya, sehingga tidak heran
warung atau warkop dan kedai menjamur (dimana-mana selalu tersedia). Bahkan
ada yang membukanya hingga larut malam. Ini menunjukkan begitu banyak yang
mencintai minuman ini.
Dan
kedua minuman ini sudah banyak modifikasi, ia sudah disajikan dengan berbagai
pilihan rasa. Ada teh hijau, teh hitam, teh putih, teh kunyit, kopi arabica,
kopi robusta, kopi liberica, white coffee dll. Kedua minuman tersebut
terkadang dicampurkan dengan rasa buah atau tanaman obat-obatan seperti teh
jahe, kopi strawberry bahkan ada yang mencampurkan keduanya yakni teh
rasa kopi.
Dan dalam suatu Riwayat As-Sayyid Ahmad bin Ali Bahr al-Qadimi berjumpa dengan Nabi Muhammad SAW dalam keadaan terjaga. Ia berkata kepada Nabi SAW.: “Wahai Rasulullah, aku ingin mendengar hadits darimu tanpa perantara.” Nabi Muhammad SAW. Kemudian beliau bersabda: “Aku akan memberimu 3 hadits; yang antara lain dari 3 hadist yang disebutkan Rasulullah SAW adalah “ selama bau biji kopi ini masih tercium aromanya di mulut seseorang, maka selama itu pula malaikat akan beristighfar (memintakan ampun) untuknya”.(Kitab Tazdkir An-Nas: 77). Jadi pada masa Rasulullahpun minuman kopi sudah dikenal.
Pada hakekatnya, teh
adalah minuman yang dibuat dari pucuk atau daun kering tanaman teh
sedangkan minuman kopi dari bijinya yang dikeringkan kemudian disangrai dan
dihaluskan. Dalam teh dan kopi terdapat kandungan kimia yakni pada teh terdapat
sellulosa, protein, klorofil, tanin, pati, kafein, asam amino, gula
dan abu. Sedangkan pada kopi sellulosa, kafein, lemak, gula, air dan
abu.(Hambali, E)
Di
antara kandungan kimia di atas terdapat senyawa kafein (C8H10N4O2) yang dapat memberikan
efek stimulasi terhadap sistem saraf pusat. Zat tersebut dapat mengurangi
resiko penyakit kronis dan meningkatkan suasana hati sehingga seseorang yang
merasa Lelah dan penat dapat merasa bugar kembali setelah minum teh atau kopi.
Menurut
Nikolai Kuhnert (Ahli Kimia Jacobs Bremens University di
Jerman) yang dilansir oleh Metro (22 Januari 2018) menyatakan
bahwa pada saat minum teh maka senyawa kafein yang keluar
pertama dari daun. Kafein menghalangi produksi adenosin (neurotaransmiter yang
membuat kita Lelah sepanjang hari). Hal inilah yang mempengaruhi suasana hati
kita dapat refresh setelah minum teh dan kopi.
Kafein
biasanya terikat unsur Nitrogen, sehingga pada teh dan kopi jika diakumulasikan
kandungan kafeinnya maka kopi jauh lebih tinggi dibandingkan teh. Para ahli
mengatakan bahwa setiap 226 gram bubuk kopi mengandung 150 mg kafein. Teh hijau
mengandung 75 mg, dan teh hitam 50 mg kafein.
kandungan kafein
dalam teh dan kopi cukup tinggi untuk dapat dikonsumsi setiap hari. Apalagi bagi
mereka yang sudah candu dan selalu dirundukan, sehingga akan merasa pusing jika tidak minum
teh dan kopi dalam sehari, bahkan hal tersebut menjadi kegiatan
rutin di rumah atau di manapun ia berada. Dan tanpa disadari kafein
akan terakumulasi di dalam tubuh. Kafein pun jika berlebihan maka
akan menimbulkan perasaan gelisah, susah tidur, gangguan pencernaan, merusak
otot dan jika efek kafein dari teh dan kopi yang kita minum hilang maka kita
akan merasa lelah kembali. Hal inilah yang membuat candu terhadap kedua minuman
tersebut.
Dan hal yang sangat
disayangkan minuman yang beredar di Indonesia khususnya teh dan kopi karena
produsen minuman tidak pernah mencantumkan indikasi penggunaan dan informasi
tentang siapa saja yang cocok meminumnya, (tidak mencantumkan kontra
indikasi atau peringatan akan bahaya minuman tersebut). Sehingga
kitalah yang perlu memilah-milah takaran minuman yang kita konsumsi setiap
harinya.
Akhir kata meminjam pepatah penikmat kedua minuman ini bahwa teh dan kopi selalu jujur akan pahitnya ,dan membuat kita sadar bahwa yang manis tak selalu berakhir indah. Dan ketika kata-kata tak lagi banyak berbicara, secangkir teh dan kopi bisa jadi perantara dan mencairkan suasana.
Namun sepahit-pahitnya rasa asli kopi dan teh itu tidak seberapa. Kata Ali bin Abu Thalib “Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia”.

Mantap, kata terakhir lebih menyentuh. Lebih baik berharap pada Allah daripada berharap pada manusia. Akan lebih manis ketika kita selalu berharap pada Allah
BalasHapusswt drpd manusia.
Terima kasih ndi
HapusSemuanya menyentuh kalau membaca tulisan Ibu. Ketika sains dikaitkan dgn Islam sy selalu terkagum2 bu.😍Harusnya sprti ini mmng. Smg sy jg bisa melakukannya.
BalasHapusTerima kasih dinda
HapusKeren dinda. Berharap pada manusia akan kecewa, berharap pada Allah akan membuat hati tenang dan semakin membuat kita dekat denganNya.
BalasHapusSyukran kanda
HapusKeduanya minuman yg bisa membuat hati tenang dikala dahaga tentu dgn takaran yg pas
BalasHapusInspiratif
BalasHapusTerima kasih pak doktor
Hapus