Dimana ada gula disitu ada semut
Gula sangat identik
dengan rasa manis akan tetapi pepatah ini bermakna tempat yang menyenangkan dan
semut bermakna banyak orang. Jadi makna pepatah di atas adalah di setiap tempat
yang menyenangkan pastilah banyak orang yang berdatangan. Demikian pula rasa
manis yang terdapat pada gula tidak ada orang yang tidak senang akan hal
tersebut, begitu pula Rasulullah SAW.
Dalam suatu riwayat
Aisyah radhiyallahu anha berkata:
كَانَ أَحَبُّ الشَّرَابِ
إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْحُلْوَ الْبَارِدَ
Artinya :
“Minuman yang paling disukai Rasullullah SAW adalah yang dingin dan manis”.
Rasa manis yang
dimaksud di atas adalah air dengan campuran madu, kismis yang direndam gula
serta kurma.(Bahrain R, 2015)
Gula dalam istilah
kimia disebut glukosa dengan rumus molekul C6H12O6.
Gula diperoleh dari hasil penguraian karbohidrat dari polisakarida menjadi
tetrasakarida, trisakarida, dan disakarida kemudian dalam
bentuk paling sederhana yaitu monosakarida. Monosakarida inilah
gula (glukosa). Dan di dalam tubuh manusia ia dapat diperoleh dari makanan
yang mengandung karbohidrat. Kandungan gula
pada tanaman berasal dari reaksi fotosintesis sehingga energi
yang dihasilkan dari gula tersebut bersumber dari cahaya matahari dengan reaksi
kimia yang telah dijelaskan oleh Anna
Poedjiadi di dalam buku Dasar-dasar
Biokimia di bawah ini:
Pada Industri/ pabrik pembuatan gula biasanya bahan baku diperoleh dari bahan alami dan buatan (sintetik) sehingga dikenal 2 istilah berikut ini :
a. Gula
Alami
Gula yang diperoleh dari bahan
baku yang terdapat di alam seperti nasi,ubi, jagung, tebu dan buah-buahan. Gula
ini akan menghasilkan kalori (energi) yang besar serta aman untuk dikonsumsi.
Gula alami ini contohnya gula pasir, gula aren dan gula bit.
b. Gula
Buatan (sintetik)
Gula yang dibuat dari campuran
bahan-bahan kimia seperti sakarin, aspartam, siklamat, sorbitol
dan sylitol. Pemanis buatan ini memiliki nilai kalori (energi) rendah atau
bahkan tidak menghasilkan energi sama sekali dan terkadang sulit dicerna oleh
tubuh sehingga memiliki efek buruk bagi kesehatan. Jika terlalu banyak
mengkonsumsi pemanis ini akan menimbulkan penyakit diabetes mellitus
atau kanker. Biasanya para pedagang makanan yang ingin mendapatkan banyak
keuntungan menggunakan pemanis ini, karena harganya relatif murah dan
penggunaannya hanya sedikit akan memiliki rasa manis 200 kali lebih manis dari
pemanis alami. Kalau dalam istilah di pasaran pemanis buatan ini disebut sarimanis.
Di antara ciri pemanis ini biasanya meninggalkan rasa pahit dan manis yang
berbekas di lidah. Rasa manis yang timbul dari gula yang kita konsumsi hanya
terasa di ujung lidah saja, rasa pahit pada pangkal lidah serta asin dan asam
pada pinggir lidah.
Menurut Kementrian Kesehatan RI (Kemenkes) kandungan
gula yang disarankan untuk dikonsumsi perhari sekitar 500 gr atau setara dengan
4 sendok makan. Jadi perlu kontrol komposisi gula makanan yang kita konsumsi
setiap harinya. Tapi dalam kehidupan ini bukan hanya gula saja yang manis tapi
kata-kata yang menyenangkanpun jauh lebih manis sehingga banyak orang ingin mendengarkannya
dan ingin lebih dekat dengan kita, asal jangan manis hanya di bibir saja tapi
tidak sampai di hati . Allah selalu melihat apa yang bersemayam di dalam hati
kita.
Seorang
istri harus bisa menjadi gula bagi suaminya, selalu merasa senang di sampingnya.
Dosen harus menjadi gula bagi mahasiswanya agar mahasiswa senang bila diajar
dan dibimbing. Pemimpin harus menjadi gula bagi bawahannya, agar bawahan
semangat bekerja. Seorang anak menjadi
gula bagi orang tuanya, agar senyuman senantiasa terpancar di wajahnya,
demikian pula sebaliknya.
Akhir kata
bersifatlah seperti gula yang selalu memberi rasa manis di hati tapi jangan
bersifat sepert semut yang hanya datang kalau ada kepentingan atau hal yang
menyenangkan dan sebaik-baik rasa manis bukan hanya manisnya gula tapi
manisnya iman.





